Connect with us

Ekonomi

Daya Beli Turun, Jokowi Sebut yang Bilang Orang Politik

Published

on

FINROLL.COM, Presiden Joko Widodo agaknya tak terima dengan dugaan pelemahan daya beli yang membuat pertumbuhan ekonomi kurang bergairah. Ia menuding, indikator ekonomi yang merosot sengaja dialamatkan untuk pemerintahannya demi tujuan politik.

Ia menyebut, telah terjadi pergeseran pola belanja ritel offline menuju daring (online). Memang, angka pertumbuhan belanja online saat ini masih sulit diukur. Namun, menengok data pertumbuhan sektor jasa angkut dan sewa barang, boleh dibilang daya beli tak kedodoran.

Berdasarkan data yang dikantonginya, sektor jasa angkut merokett 130 persen hingga akhir September 2017, diikuti sewa gudang yang tumbuh 14,7 persen.

Tak cuma itu, Jokowi bilang, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) juga terkerek 12,14 persen. Artinya, ada indikasi konsumsi masyarakat yang dituding suam-suam kuku tak sepenuhnya benar.

Lihat juga: Dominasi BUMN Bukti Ekonomi Jokowi Tak Condong Neoliberalisme
“Saya menerima angka tersebut. Kalau tidak ada kegiatan ekonomi, maka tidak akan ada angka ini,” ujarnya belum lama ini.

Apalagi, lembaga-lembaga pemeringkat internasional, seperti Fitch Rating, Standard and Poor (S&P), dan Moody’s telah meningkatkan peringkat investasi Indonesia.

Bahkan, Bank Dunia menempatkan Indonesia pada peringkat 91 dari sebelumnya di posisi 106 dalam indeks kemudahan berbisnis.

Makanya, mantan gubernur DKI Jakarta tersebut mengaku heran dengan pesimisme ekonomi yang timbul. Ia mensinyalir, isu pelemahan daya beli cuma politisasi jelang tahun politik pada 2019 mendatang.

“Isunya, daya beli turun, daya beli turun, yang lihat ya orang politik. Orang politik itu tugasnya kayak itu kok, bikin isu untuk tahun 2019,” imbuh Jokowi.

Wartawan senior Finroll.com

Trending Stories