Connect with us

PASAR MODAL

Dollar AS makin kuat di hadapan mata uang utama

Published

on

Photo: Istimewa

FINANCEROLL.COM, JAKARTA. Dollar Amerika Serikat (AS) menguat di hadapan mata uang utama dunia. Per pukul 19.10 WIB kemarin, pasangan kurs EUR/USD melemah 0,43% dibandingkan hari sebelumnya menjadi 1,1560. Lalu GBP/USD melemah 0,30% ke 1,3132. Kurs yen terhadap dollar AS juga turun 0,38% jadi 114,14.

Dollar AS awalnya sempat tertekan lantaran data tenaga kerja AS di Oktober cenderung mengecewakan pasar. AS melaporkan tingkat pengangguran meningkat menjadi 6,3% dari bulan sebelumnya 6,2%. Penyerapan tenaga kerja di sektor swasta non-pertanian juga cuma sebesar 216.000 orang, dari prediksi 312.000.

Namun dollar AS kemudian menguat lantaran indeks belanja sektor non manufaktur yang dirilis ISM mencapai level 60,1. Prediksi analis, indeks ini cuma mencapai 58,5.

Dollar AS juga menguat akibat rencana The Fed menaikkan suku bunga akhir tahun ini. Selain itu, pemerintah AS juga mereformasi pajak korporasi. Sebelumnya Presiden AS Donald Trump menjanjikan pemangkasan pajak sebanyak 30% sebelum merevisinya menjadi 20%.

Keputusan pensiun dini Gubernur The Fed New York William Dudley juga tidak mempengaruhi dollar AS secara signifikan. Pasalnya, Dudley kerap menentang kebijakan yang hawkish. Pasar juga lebih tertarik pada pelantikan Jerome Powell yang menggantikan posisi Janet Yellen sebagai gubernur baru.

Di samping itu, mata uang global lain sedang tertekan. Analis Finex Berjangka Nanang Wahyudi menjelaskan, euro tertekan di hadapan USD akibat keputusan Gubernur European Central Bank (ECB) Mario Draghi yang memangkas pembelian surat utang Uni Eropa. Dengan keadaan ini, pasar mulai mengkhawatirkan prospek inflasi ke depan. "Pasar menantikan pidato Draghi dan berharap ada pembahasan inflasi dan arah kebijakan suku bunga ECB," ungkap Nanang, Selasa (7/11).

ECB menargetkan inflasi tahun ini mendekati 2%, namun realisasinya bisa meleset. Data terbaru, produksi industri Jerman di September defisit 1,6% padahal prediksi pasar hanya defisit 0,7%.

Bila inflasi di bawah target, Nanang memprediksi ECB bisa menahan suku bunga di posisi saat ini. Ini mengindikasikan Eropa sedang kurang percaya diri dengan perekonomiannya. Namun dalam pidatonya di forum perbankan di Frankfurt, Jerman, kemarin, Draghi ternyata tidak menyinggung persoalan kebijakan moneter.

Sedangkan poundsterling tertekan usai Bank of England (BoE) menaikkan suku bunga dari 0,25% menjadi 0,50%. Pelaku pasar kecewa dengan pernyataan Gubernur BoE Mark Carney yang tidak memberikan sinyal kenaikan suku bunga lanjutan, sehingga mata uang ini terkoreksi. "Hingga 2020 nanti wacana kenaikan bunga di Inggris hanya sekitar dua kali, ini membuat poundsterling jatuh di hadapan mata uang lain," jelas analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono.

Untuk USD/JPY, analis Astronacci International Anthonius Edyson menjelaskan, notulen rapat Bank of Japan (BoJ) yang menyatakan inflasi belum bisa mencapai target 2% membuat yen melemah. Apalagi Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda terus mengaplikasikan program quantitative easing dan tak menaikkan suku bunga. Kebijakan ini bertolak belakang dengan The Fed. [KONTAN.CO.ID]

Dia adalah jurnaslis senior khusus di bidang polhukam dan ekonomi

Trending Business