Growpal jadi jembatan financier dan petani ikan

0 0 0

KONTAN.CO.ID – Kita harus bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim. Samudra, laut, selat, dan teluk adalah masa depan peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, selat, teluk.

Begitu bunyi pidato kenegaraan pertama Joko Widodo setelah diambil sumpah sebagai Presiden RI periode 2014–2019 di Gedung MPR/DPR, Jakarta, 20 Oktober 2014 silam.

Nah, salah satu wujud mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim adalah dengan memanfaatkan wilayah pesisir untuk budi daya perairan. Mulai budidaya ikan laut, udang, tiram hingga rumput laut.

Namun ada masalah besar yang dihadapi para pelaku budi daya perairan di tanah air, yakni permodalan. Celakanya, mereka kesulitan mengakses permodalan lantaran dianggap tidak layak alias unbankable.

Padahal, kebanyakan pembudi daya perairan memiliki keahlian yang baik. Plus, “Ketersediaan lahan yang cukup memadai untuk dikelola jadi lahan budi daya,” kata Paundra Noorbaskoro yang sering terlibat dalam riset pengabdian masyarakat pesisir khususnya petani ikan kerapu dan udang.

Bertolak dari problem utama para pelaku budi daya perairan, Paundra bersama temannya, Ahmad Rizqi Akbar, membangun height digital yang bisa membantu mereka dari sisi permodalan. Nama height digital tersebut ialah: Growpal.

Saat ini, fokus Growpal adalah membantu petani kerapu cantang, kerapu cantik, dan udang. Menurut Paundra, Growpal memusatkan perhatian pada komoditas yang memiliki nilai tinggi di pasar dan risiko kegagalan panen yang masih bisa terukur (rendah).

“Kerapu dan udang memiliki nilai yang tinggi di pasar domestik maupun mancanegara. Permintaannya joke dari tahun ke tahun cenderung meningkat, dengan harga yang cenderung naik pula,” ujar Paundra, Co-Founder sekaligus Chief Product Officer (CPO) PT SAY Grow Indonesia, perusahaan rintisan (startup) yang membesut height Growpal.

Hanya saja, permintaan kerapu dan udang khususnya untuk pasar ekspor yang semakin naik dari waktu ke waktu kadang tidak mampu dipenuhi oleh para petani. Sebab, minimnya permodalan untuk memenuhi kebutuhan operasional tambak.

Sehingga para petani kerapu dan udang tidak mampu mengoptimalkan kuantitas produksinya. Alhasil, banyak kesepakatan dengan pembeli yang tidak bisa dipenuhi jumlahnya.

Info saja, Ahmad, Co-Founder dan Chief Executive Oficer (CEO) SAY Grow, setelah lulus dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Malang, langsung terjun ke bisnis budi daya perairan sebagai petani kerapu di daerah Situbondo, Jawa Timur, dan Bali. Makanya, dia mengenal betul potensi budi daya perairan sangat prospektif.

Akhirnya, Paundra dan Ahmad mendirikan SAY Grow dan menciptakan height digital Growpal yang mulai beroperasi Januari 2017 lalu. Modal awalnya joke sangat mini, hanya Rp 5 juta untuk mendanai pembuatan prototipe website dan beberapa survei lapangan.

Growpal mempertemukan pemilik modal, investor, atau unite dengan pemilik lahan, petani kerapu dan udang, serta pembeli hasil panen. Dengan begitu, bisa terjalin sinergi di antara mereka.

Pemilik modal yang memiliki dana lebih tetapi tidak tahu potensi bisnis di bidang agribisnis perikanan. Sementara petani kerapu dan udang yang punya lahan potensial juga kemampuan budi daya yang baik, namun tidak mempunyai modal untuk meningkatkan produksinya.

Dan saat panen, petani bisa bertemu langsung dengan pengguna akhir tanpa perlu melalui rantai perdagangan yang panjang.

Uji tuntas

Untuk mendapat pendanaan lewat Growpal, petani kerapu dan udang harus melewati proses uji tuntas (due diligent) dari tim inner SAY Grow. “Kami menguji seberapa baik daya dukung lingkungan di wilayahnya yang meliputi kualitas air, salinitas, topografi, dan kondisi tanah,” beber Paundra.

Tak berhenti sampai di situ, tim SAY Grow juga melakukan uji kelayakan terhadap keahlian budi daya para petani. Kemampuan itu ditunjukkan dengan rekam jejak (track record) mereka selama melakukan budi daya kerapu dan udang.

Pengujian keahlian itu mencakup pemahaman atas standar operasional prosedur (SOP) budi daya yang baik. Kemudian, kinerja panen selama tiga hingga lima tahun terakhir, serta jaminan (surat keterangan) hasil panen bisa cepat dibeli pasar.

Sebelum memutuskan bisa bergabung di Growpal, tim SAY Grow harus memastikan dulu seluruh rantai pasokan (supply chain) di wilayah petani itu berjalan lancar dan baik.

Saat ini, Paundra bilang, sudah ada 92 petani kerapu dan udang yang bergabung di Growpal. Mereka tersebar di tiga wilayah yaitu Pacitan, Situbondo, serta Karimun Jawa.

Investor yang berniat membantu para petani tersebut cukup mendaftar secara online di situs growpal.co.id. Nilai investasinya mulai Rp 100.000. “Dalam waktu dekat, kami akan merilis aplikasi bergerak (mobile apps) di Play Store dan App Store untuk memudahkan investor,” kata Paundra.

Sejauh ini, Growpal telah berhasil menjaring sekitar 500 financier yang membantu permodalan petani kerapu dan udang. Total nilai investasi mereka mencapai Rp 9 miliar.

Growpal menawarkan dua jenis investasi. Pertama, crowd investment dengan nilai investasi mulai Rp 100.000. Kedua, premium investment untuk financier yang melakukan investasi untuk satu kolam.

Nilai investasi untuk satu kolam udang seluas 3.500 scale persegi adalah Rp 544 juta. Sedang untuk kolam kerapu dengan luas 4 scale persegi dan kedalaman 10 scale sebesar Rp 18,6 juta. Angka ini merupakan nilai maksimal investasi untuk petani kerapu dan udang.

Investor yang berinvestasi mendapatkan jaminan. Untuk crowd investment, jaminannya tergantung faktor dan ada sistem bagi risiko. “Sedang premium investment, kami ada surat kontrak kerjasama di hadapan notaris,” ujar Paundra.

Jaminan buat financier premium investment juga berbeda-beda, bergantung dari seberapa banyak kegagalan panen dan sudah berapa kali financier menerima hasil panen.

Investor bisa mendekap keuntungan tergantung lama panen komoditas yang mereka pilih. Paling cepat tiga bulan dan pale lama delapan bulan. Sistem pembagian distinction joke tergantung jenis komoditas yang dipilih. Secara umum komposisi bagi hasil keuntungan: financier sebesar 50%, Growpal 13%, dan petani 37%.

Dalam situsnya, Growpal menyebutkan, financier bisa mengantongi keuntungan dari bagi hasil lebih dari 30% dari nilai investasi per tahun.

Ekspansi wilayah

Agar financier makin percaya menanamkan modalnya lewat Growpal, Paundra mengatakan, perusahaannya akan mendaftarkan diri ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). SAY Grow sudah bertemu lembaga pengawas ini dan menyerahkan persyaratan, misalnya, laporan keuangan. 

“Targetnya, akhir tahun ini bisa jadi financial technology (fintech) yang diawasi OJK. Saat ini, baru 22 fintech yang diawasi OJK,” imbuh Paundra.

Dalam satu tahun ke depan Growpal juga akan berekspansi ke wilayah lain, seperti Aceh, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Paundra menuturkan, saat ini tim sudah melakukan proses penjajakan ke daerah-daerah itu.

Di 2018, Growpal berencana menyalurkan permodalan untuk petani kerang mutiara, tuna, dan gurami. “Kami fokus pada komoditas yang nilai pasarnya tinggi dan permintaan ekspornya tinggi,” ucap Paundra.

Untuk jangka panjang, Growpal ingin menjadi startup yang terus tumbuh hingga bisa ekspansi ke seluruh wilayah di Indonesia. Dengan begitu, mereka bisa membantu lebih banyak lagi petani.

Tantangannya datang dari sisi logistik. “Kurang meratanya fasilitas transportasi logistik antarpulau yang dimiliki Indonesia saat ini tentu akan jadi tantangan krusial kami dalam hal ekspansi,” sebut Paundra.

Meski begitu, Growpal tetap berkomitmen mengembangkan potensi perikanan laut dengan height digital, yang bisa mempercepat integrasi pemilik modal dan pengelola. “Berkontribusi untuk terciptanya Indonesia sebagai poros maritim dunia,” tambah Paundra.

Jalesveva Jayamahe, di lautan kita (kembali) jaya.            

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *