Connect with us

Moneter

Kabar Gembira, RI (Mungkin) Tak Akan Resesi!

FINANCEROLL.COM – Pasar keuangan Indonesia ditutup variatif pada perdagangan kemarin. Memberi sinyal bahwa reli panjang kemungkinan bakal segera berakhir.

Kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis 0,07% ke Rp 14.480/US$ di perdagangan pasar spot. Padahal rupiah sempat begitu perkasa dengan menyentuh posisi terkuat di Rp 14.420/US$.

Baca: Menguat Seiprit, Tapi Rupiah Jadi Jawara Asia!

Begitu pula dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Mengawali perdagangan dengan stagnasi di 5.116.67, IHSG harus puas finis di zona merah dengan koreksi 0,07%.

Sepertinya baik rupiah maupun IHSG mulai kehilangan pamor. Maklum, keduanya sudah menguat lumayan tajam.

Selama sepekan terakhir, rupiah sudah menguat 1,36% di hadapan greenback. Sementara selama sebulan ke belakang, IHSG melesat 4,31%. Jadi tidak heran investor mulai berpikir untuk mencairkan keuntungan.

Kebetulan ada momentum yang tepat untuk itu. Ketidakpastian di perekonomian dunia masih tinggi, terutama soal pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah pasien positif corona di seluruh dunia per 28 Juli 2020 adalah 16.341.920 orang. Bertambah 226.783 (1,41%) dibandingkan posisi sehari sebelumnya.

Sejak 7 Juli, kasus corona selalu bertambah lebih dari 100.000 per hari. Bahkan dalam 9 hari terakhir penambahannya selalu di atas 200.000.

“Orang-orang selalu berpikir bahwa ini musiman. Ini berbeda, virus menyukai segala cuaca. Kita sedang berada di gelombang pertama, gelombang pertama yang besar,” tegas Margaret Harris, Juru Bicara WHO. Seperti dikutip dari Reuters.

Oleh karena itu, sepertinya hari ini investor harus lebih waspada. Sebab koreksi bisa terjadi, dan mungkin bakal lebih dalam.

Beralih ke bursa saham New York, tiga indeks utama ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 0,77%, S&P 500 minus 0,65%, dan Nasdaq Composite ambles 1,27%.

Kemarin, Wall Street menguat setelah ada harapan stimulus fiskal baru senilai US$ 1 yang diajukan oleh kubu Partai Republik di House of Representaives (salah satu dari dua kamar legistatif di AS). Namun proposal ini tidak berjalan mulus.Pihak Partai Demokrat di House menilai proposal Republik terlalu cemen. Demokrat ingin agar nilai stimulus lebih besar lagi, yaitu US$ 3 triliun.

Bahkan kubu Republik di Senat juga tidak sepakat dengan proposal yang diajukan koleganya di House. Randall ‘Rand’ Paul, Senator Negara Bagian Kentucky dari Partai Republik, menilai uang yang dikeluarkan untuk penanganan virus corona sudah terlalu banyak.

“Saya tidak mau lagi berutang triliunan dolar,” ujarnya, seperti dikutip dari Reuters.

Mandeknya proposal stimulus ini membuat penonton, eh investor, kecewa. Padahal rakyat AS butuh kepastian dalam waktu dekat, karena program Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar US$ 600 per pekan akan segera berakhir.

Tanpa BLT, dan lapangan kerja yang masih terbatas, dikhawatirkan konsumsi rumah tangga di Negeri Paman Sam bakal terganggu. Kala konsumsi rumah tangga bermasalah, sulit berharap ekonomi bisa pulih. Maklum, konsumsi rumah tangga menyumbang hampir 70% dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Moneter