WIKA Menanti Laju Kereta Cepat

0 0 0

PT Wijaya Karya Tbk – bumn.go,id

Bisnis.com, JAKARTA – Laju proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung bakal diproyeksikan bakal menyeret kinerja keuangan PT Wijaya Karya Tbk. pada 2018.

Pekan lalu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyebut telah mendapat tugas dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengevaluasi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Pasalnya, proyek yang telah melalui proses ground breaking sejak 2016 tersebut belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Dalam sebulan ke depan, Luhut bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong bakal mengidentifikasi kendala yang menghambat pengerjaan proyek bernilai kontrak US$4,32 miliar. Hal itu sekaligus menandakan proyek tersebut kini berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Beredar kabar proyek bakal dievaluasi, Menteri BUMN Rini Soemarno tidak tinggal diam. Pihaknya menyebut saat ini proses pengerjaan terowongan atau tunel kereta cepat telah berlangsung di empat titik. Lokasi selanjutnya, di Halim, Jakarta Timur, disebut mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) itu proses pembebasan lahannya baru diselesaikan pada pekan kemarin.

Rini menyebut titik terowongan di Halim nantinya memerlukan waktu yang cukup panjang yakni sekitar 26 bulan. Akan tetapi, dengan selesainya proses pembebasan lahan di wilayah tersebut, Indonesia dapat segera mencairkan pinjaman dari China Development Bank (CDB) untuk pengerjaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

“Surat hutang sedang difinalisasi oleh pengacara di masing-masing pihak, sebelum akhir bulan bisa ditarik. Kita rencananya tarik US$500 juta dulu,” ujarnya saat ditemui Bisnis.com, pekan lalu.

PT Wijaya Karya Tbk. selaku anggota dari 7 perusahaan yang ditunjuk sebagai anggota konsorsium kontraktor proyek kereta cepat memiliki porsi sebesar 30% dari sum nilai kontrak US$4,3 miliar (belum termasuk PPn). Artinya, kontrak yang ditangani emiten berkode saham WIKA minimal mencapai US$1,29 miliar.

Direktur Utama WIKA Bintang Perbowo menjelaskan bahwa perkembangan pengerjaan proyek tersebut baru mencapai 5%. Kondisi tersebut membuat perusahaan memasang aim pertumbuhan yang moderat pada tahun ini.

“Target 2018 sama lah mirip karena ada yang kurang swell kereta cepat belum signifikan,” jelasnya.

Kendati demikian, Bintang memastikan kondisi keuangan perusahaan dalam kondisi aman meski utang dari CDB sempat tertunda pencairannya. Bahkan pihaknya, optimis pencairan dapat dilakukan sebelum akhir Januari 2018.

Sebagai catatan, WIKA merupakan pemegang saham mayoritas di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Perusahaan tersebut dibentuk bersama BUMN lainnya yakni PT Jasa Marga (Persero) Tbk., PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Tbk., untuk menggarap proyek kereta cepat.

PSBI merupakan pemegang saham mayoritas dengan porsi kepemilikan 60% di perusahaan patungan dengan PT Kereta Cepat Indonesia (KCIC). Sisanya, 40% saham dimiliki oleh konsorsium korporasi China.

Menurut catatan Bisnis.com, sampai dengan kuartal III/2017, WIKA membukukan laba bersih sebesar Rp682,64 miliar atau meningkat 47% dibandingkan dengan Rp465,46 miliar pada periode yang sama 2016. Perusahaan tersebut merupakan BUMN karya dengan jumlah laba bersih terbesar ketiga sampai kuartal III/2017 di bawah PT Waskita Karya (Persero) Tbk., sebesar Rp2,57 triliun dan PT PP (Persero) Tbk., Rp989,98 miliar.

Laba tersebut diperoleh setelah emiten berkode saham WIKA itu membukukan penjualan bersih sebesar Rp15,88 triliun sampai kuartal III/2017 atau meningkat 70% dibandingkan dengan Rp9,34 triliun sampai kuartal III/2016.

Dalam Equity Market Outlook 2018 yang dirilis Sinarmas Sekuritas, keterlambatan pencairan pinjaman dari CDB menjadi sorotan termasuk penjadwalan ulang operasional kereta cepat Jakarta-Bandung dari 2019 menjadi 2020. Pasalnya, WIKA harus menginvestasikan Rp4,57 triliun atau sekitar sepertiga dari ekuitas perseroan senilai Rp13,2 triliun hingga kuartal III/2017.

“Biaya yang harus dikeluarkan untuk kereta cepat tetap merupakan risiko potensial mengingat WIKA menanggung biaya sebagai kontraktor lokal utama,” papar laporan tersebut.

Selain itu, Sinarmas sekuritas juga menyoroti proyek kereta cepat bakal menyeret domain WIKA dalam jangka panjang. Pada kuartal III/2017, net domain perseroan sebesar 3,85% atau meningkat dibandingkan dengan kuartal II/2017 sebesar 3,4%.

Sinarmas memproyeksikan net domain pada kuartal III/2017 bakal lebih rendah apabila tidak ada pertumbuhan signifikan dari dari pendapatan bunga yang naik 770% menjadi Rp252 miliar dibandingkan dengan tahun lalu. Dengan demikian, mereka merekomendasikan neutral untuk saham WIKA dengan aim cost Rp1.890 atau tren kenaikan 4,7%.

Di sisi lain, Analis Ciptadana Sekuritas Arief Budiman mengeluarkan rekomendasi berbeda. Saham WIKA masih direkomendasikan beli dengan aim cost Rp2.500. Sentimen positif kelanjutan proyek kereta cepat dinilai bakal mendorong harga saham emiten pelat merah tersebut.

Ciptadana memproyeksikan tahun ini WIKA bakal lebih fokus menggarap bisnis dengan domain tinggi. Adapun bisnis tersebut antar lain precast, aspal, serta pembangkit listrik.

“Kami memilih WIKA sebagai tip picks [saham sektor konstruksi pada 2018] dengan alasan neraca keuangan yang lebih kuat dari perseroan bakal membantu mereka mengatasi masalah di masa depan serta pendekatan konservatif perusahaan dalam memenangkan kontrak tercermin dalam diversifikasi kontrak,” paparnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *